Injih ‘Yai.

Senin, 28 Juli penuh dengan kejutan. Siang setelah ngajar, tiba-tiba Ustad Roni (Wakasek) mengajakku ke kantor Diknas Kabupaten untuk menemui Pak Wanto yang Ketua Komite Sekolah itu. Rencananya besok ada pertemuan dengan wali murid bersama komite sekolah untuk membahas program sekolah tahun ini (bahasa jelasnya : besarnya sumbangan/infaq). Ketika ngobrol dengan dengan Pak Wanto, kemudian Pak Kasubdin Dikmen lewat kemudian menanyakan tentang rencana keberangkatan anak-anak ke Makassar. Ternyata anak-anak mau dipamitkan Pak Bupati sebelum berangkat berlaga OSN di Makassar. Dan tentunya aku sebagai pendamping juga diajak bertemu Pak Bupati. (: seneng).

Malamnya rapat membahas RAPBS. Aku tidak tahu kalau malam ini rencananya juga akan ada penrgantian tampuk kepemimpinan lembaga ini. Ketika rapat sudah di tengah perjalanan ternyata presentasi RAPBS tidak cukup dengan print out yang sudah diberikan. Ustad Basuki sebagai CEO dan kepala sekolah meminta in fokus (biasanya orang sini menyebutnya : LCD). Lha padahal infokusnya masih dibawa Gus Huda di Al-Rosyid. Akhirnya aku dan Ustad Insan mengambilnya di Al-Rosyid.

Baru sampai sana, Gus Huda pas mau berangkat ke Ar-Rahmat. Akhirnya, Ustad Insan balik sendiri pakai motor, dan aku bareng dengan Gus Huda naik mobil plat merahnya dengan membawa infokus.

Sampai di A-rahmat, Ustad Basuki menyindir, “kok cepetmen njupuk LCD ne

Aku langsung sigap tanpa menunggu, tak nyalakan, dan tak sambungkan ke Laptop. setelah susah payah nge set, ternyata pembahasan RAPBS tidak dilanjutkan dan dianggap sudah selesai. Tidak perlu dibahas lebih detail. karena semuanya hampir sudah bisa dikatakan REALISTIS.

Aku nyengir kecut. kurang **ar. tiwasan!.

Agenda selanjutnya adalah rencana pergantian suasana di struktur sekolah dan pondok.

“…. jadi setelah kami berdua berembug dan berdiskusi (dengan Gus Huda) kemarin, untuk kesempatan pertama yang diserahi tugas kepala sekolah adalah Ustad Roni…” Dawuh Ustad Basuki. Memang Ustad Roni selama ini menjabat Wakasek, jadi kelau sekarang menjadi Kasek mengutip kata-kata Ustad Basuki “ya sudah saatnya”.

” … sedangkan wakil nya Ustad Wahab” lanjut beliau.

” … untuk Kepengasuhan Nanti akan di komandani Ustad Azmi. dan Wakilnya …” ustad Basuki menghentikan dan memandang Ustad Huda.

“..sinten kemarin ustad?” berbisik ke Ustad Huda.

“Ustad Shobirin” Ustad Basuki melanjutkan dengan tanpa ragu.

Aku : ” HAH!” bengong! tercengang!

Secara, gak pernah mondok blass, lha kok ditugasi tanggung jawab kepengasuhan. tapi ya mau bagaimana lagi, kalau Kyai sudah dawuh, tidak ada ucapan lain selain: ” Injih ‘Yai”.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda