Ramadhan datang, Aku senang?

RASANYA baru kemarin ketemu bulan ramadhan. Besok sudah ketemu lagi. Berarti hari ini kesempatan terakhir makan siang dan minum es cingcau di bawah panas terik. Waduh, apalagi musim hujan belum tiba. Ups! Apa ini berarti saya tidak bahagia ketemu lagi dengan bulan ramadhan?. Bukankah saya seharusnya tahu bahwa menurut salah satu hadits menyatakan bahwa orang yang merasa senang dengan datangnya bulan ramadhan maka diharamkan neraka baginya.(?).

Memang, Saya tahu itu. Tapi senang dan tidak senang itu adalah perasaan. dan kita tahu bahwa perasaan itu insting. insting itu lebih bisa dikatakan dari hati. Itu artinya mendekati sebuah kejujuran. Jadi senang dan tidak senang itu tidak bisa dibuat-buat. Terkadang kita memang bisa belajar senang dengan sering mengucapkan dengan mulut kita bahwa saya senang. Ternyata, kadang mulut kita -secara tidak kita sadari- tidak sinkron dengan perilaku refleks kita. Oleh karena itu saya tidak mau memaksakan diri untuk menyatakan bahwa saya senang dengan datangnya bulan ramadhan ini. Walaupun sebenarnya saya sangat ingin merasa senang, dan dsaya jyuga tidak tahu apakah saya benar-benar tidak merasa senang. Karena sampai saat ini saya belum benar-benar paham dengan terjemah dari ucapan refleks saya di atas. kalau memang ucapan refleks itu menjadi “judge” perasaan saya, maka saya tidak ada keinginan untuk mengelak. Karena barangkali memang begitulah adanya.

Perasaan senang, suka dan cinta akan sesuatu seperti yang diketahui banyak orang bisa terjadi secara spontan ataupun bisa terjadi karena terbiasa. “witing trisno jalaran soko kulino” (wit: Pohon; jalaran: tumbuh/menjalar; kulino: Terbiasa). Begitu pepatah jawanya. Nah kalo dengan bulan ramadhan tahun ini, barang kali “kulino” yang bisa menumbuhkan “pohon” cinta saya terhadap bulan ramadhan adalah dengan “mengenalinya lebih jauh”. Dengan mengenali kehebatan, keunggulan, keluarbiasaan, atau kelebihan-kelebihannya. Dan mungkin saya akan berusaha mengenali lebih dekat bulan ramadhan dari sisi-sisi yang lain (apa ya?). Pokoknya saya akan berusaha Pe De Ka Te yang se De Ka Te - De Ka Te nya.

Semoga saja saya bisa jatuh cinta dengan Ramadhan tahun ini. Sehingga saya akan sedih dan merindukannya ketika dia akan berakhir nanti. Dan hal itu akan menyebabkan saya akan senantiasa menantikan kehadirannya ketika bulan syawal berlalu. Pada akhirnya saya akan bahagia dan senang ketika ramadhan menjelang tahun mendatang. Semoga Allah Swt meridhai dan mengijinkan.Amin.(Choby)

Selamat Menikmati Ibadah

di Bulan Ramadhan

Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Semoga Amal dan ibadah kita terasa Nikmat

Sehingga Keihlasan kita di terima Allah Swt. Amin.

Muh. Shobirin Saerodji
Bojonegoro, 31 Agustus 2008
17.05 WIB.

Ikutan Nyaleg

DALAM minggu-minggu ini ramai dibicarakan tentang pen-caleg-an baik di media elektronik maupun cetak. Bahkan obrolan warung kopi-pun juga ikutan gayeng membahas tema ini. Saya tidak begitu heran kalau kelas warung kopi “mbah No” dan cangkrukan angkring serta kelompok udut cethe tiba-tiba tidak males membahas tentang dunia perpolitikan dalam hal ini pencalegan. Kelompok masyarakat yang biasanya hanya “nggedabrus, ngalor-ngidul” sekarang sudah tidak hanya berlevel politik Pilkades, tapi sudah berpikir wilayah politik tingkat lebih tinggi - Legislatif Daerah. Fenomena ini bukan semata-mata karena meningkatnya pengetahuan ketatanegaraan atau kesadaran pendidikan berpolitik masyarakat tapi lebih disebabkan karena banyak tetangga-tetangga dan teman karibnya yang ikutan menjadi mencalonkan diri menjadi caleg. Sehingga mendadak merasa naik derajat, karena menjadi orang yang dekat dengan calon anggota dewan yang terhormat. Maka membahas dunia politik prapemilu 2009 kali ini akan sangat meriah walaupun di warung kopi “Mbah No“, cangkrukan angkring, ataupun kelompok udut cethe.


Saya sediri juga demikian. Beberapa teman dekat Saya mulai teman cangkrukan, sampai teman chatting pada pemilu mendatang ini akan ikutan mencalonkan diri menjadi caleg (nyaleg: Jawa). Partainya pun beragam. Mulai dari partai terbaru sampai partai era orde baru. Rata-rata mereka masih muda dengan idealisme tinggi. Hanya, kebanyakan adalah seorang “greenhorn” politik yang pada wilayah imajinasipun mereka belum pernah mengunjungi padang kurusetranya Satria Kerah Putih.


Jaman sekarang menjadi caleg adalah jalan cepat meraih popularitas juga kantongtebalitas. Apalagi ditambah adanya kesempatan longgar tawaran dari partai-partai baru yang masih kesulitan mencari kader yang akan dicalegkan, karena memang anggota saja masih banyak yang hanya di atas kertas. Tidak heran jika orang-orang di sekitar kita banyak yang ramai-ramai mencalegkan diri.


Bagaimana sikap kita sebagai teman dan tetangga?. Kadang sebagai teman dekat yang tahu (versi saya) akan kotornya dunia politik merasa kasihan dengan langkah yang diambil oleh teman-teman saya.


Betapa mereka adalah orang-orang yang sudah cukup jujur dan baik. Sedangkan modal yang harus dimiliki agar bisa bertahan tetap menjadi orang baik di kursi dewan tidaklah cukup dengan “jujur”. Kejujuran yang “loko-loko” juga tetap tidak akan menyelamatkan. karena pepatah Jujur=hancur itu lahirnya dari sana. Modal lain yang harus dimiliki oleh politikus adalah cerdas. Cerdas dalam hal ini mendekati pengertian cerdik. Artinya tahu dimana posisi aman dan menguntungkan. Tentunya aman dan menguntungkan ini sesuai dengan maqam ilmu masing-masing. Misalnya untuk maqam yang ahli agama, aman dan menguntungkan itu adalah yang tidak melanggar syar’i tapi yang “basah”, kalo syar’i tapi “kering” ya ogah. Kalau maqamnya setengah ahli agama misalnya; syubhat (bahkan haram) tidak apa-apa yang penting dimanfaatkan untuk kebaikan ummat banyak dan kepentingan agama. Kalau sudah begini betapa susahnya mempertahankan diri menjadi orang baik. Bisa dibayangkan pengertian “aman dan menguntungkan” versinya anggota dewan yang tidak mengenal (mengindahkan ajaran) agama?.


Meskipun begitu saya tidak pernah “nggembosi” mereka untuk terus melangkah ke dunia bintang (kalo versinya bang Iwan Fals : dunia para binatang). Karena kalau bukan mereka yang muda-muda yang berbicara, maka kapan dunia perpolitikan negeri ini akan berubah?. Walaupun, saya harus merelakan teman-teman saya yang jujur dan baik memasuki wilayah yang sangat berbahaya. Demi sebuah perubahan.


Saya ihlaskan teman-teman untuk berjuang di wilayah perpolitikan. Saya hanya mendoakan semoga kalian mampu menyumbangkan perubahan dunia perpolitikan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Saya akan masih tetap di sini, sambil mengamati.


Salam!
Shobirin Saerodji

Hari Kedua di Makassar

HARI ini anak anak tiba dari Surabaya. Mereka tiba dibandara Hasanuddin Makassar kira-kira pukul11.55 WITA dengan selamat setelah terjadi penundaan keberangkatan (istilahnya delay, saya baru tahu) kurang lebih satu setengah jam. Kabarnya, penundaan tersebut dikarenakan “parkiran” di Bandara Hasanuddin penuh, susah ternyata nyari parkiran pesawat.

Ba’da sholat Jumat, sambil menunggu kedatangan mereka di Hotel Sahid (base Camp Peserta OSN), saya jalan-jalan ke Mall yang berada di samping kanan hotel sahid persis. Rencananya mau jalan-jalan dan nyari pete kota Makassar. Berdasarkan pengalaman backpakcing ke Jakarta beberapa waktu lalu, bahwa peta cukup bermanfaat. Sampai lantai 3 di Mall akhirnya ketemu gramedia. Ada gramedia juga ya di makassar ( hihihihi). Masuk gramed seperti masuk goa yang penuh makanan. menemukan buku-buku jadi kepincut untuk baca-baca. Dapet inceran bukunya Gus Mus yang berjudul Membuka Pintu Langit. Dan berikutnya sampai hampir lupa waktu gara-gara ketemu bukunya Raditya si Kambing Jantan yang kocak habis. Sambil menyusuri rak demi rak akhirnya ketemu dengan tempat peta. Kebetulan ada turis asing yang juga lagi beli peta. Akhirnya aku ambil satu dengan judul besar Propinsi Sulawesi Selatan ku bawa dengan bukunya Gus Mus tadi. Kemudian keluar Mall mau mendatangi anak-anak. Belum sampai keluar Mall dapat Call dari Pak Fauzi YIMI, mengabarkan bahwa beliau sudah berada di Lobi Hotel Sahid. Pas sekali. akhirnya kami bertemu di lobi hotel. ternyata disana bertemu dengan Teman-teman guru yang lain (buDhe Yuli, Bu nurul, BU Lilis, Pak Gianto-TUban) dan tidak kusangka bertemu dengan Bapaknya Taufan anak SC tahun lalu. Alhamdulillah beliau masih ingat saya, malahan saya yang lupa (hihihi…, malu). Kemudian saya mengunjungi kamarnya anak-anak. Ternyata Wawan dan Ryan berbeda kamar. mereka di acak. Satu kamar 3 anak, dan masing-masing anak itu beda pelajaran dan beda propinsi. Wawan di Lantai 10, sedangkan Ryan di lantai 4. Karena yang menemani saya naik wawan, maka saya putuskan untuk ke kamar wawan. dan ryan menyusul beberapa waktu kemudian.

CAPEK- Tim Ar-Rahmat setibanya di hotel Sahid, Makassar.

CAPEK- Tim Ar-Rahmat setibanya di hotel Sahid, Makassar.

Kawan-Bersama Faiz, anak Jogja

Kawan-Bersama Faiz, anak Jogja

Kalau mau lihat jadwal OSN tadi sudah saya “Jepret” silahkan klik di sini Setelah Puas ngobrol, dan photo-photo Saya memutuskan untuk mengikuti Teman-teman guru ke Penginapan mereka di Guest House Copacabana. Jl Hassanudin. Akhirnya saya memutuskan besok akan bergabung dengan mereka dan meninggalkan Wisma yang sudah dua hari ini saya tempati. kemudian saya lanjutkan sholat ashar di Masjid komplek kantor pos yang kemarin sore saya sholat ashar di sana. Ba’da sholat perut terasa lapar. kemudian nyari Makan, Mie Ayam. ternyata penjualnya orang Jawa, terlihat dari Logatnya. Setelah kenyang, melanjutkan jalan jalan ke pantai Lovina yang kemarin juga sudah saya kunjungi. kali ini saya mau melihat sunset. akhirnya berhasil mendapatkan gambar yang lumayan.

Sunset Lovina- Lumayan kan, bagusan mana atas atau bawah!

Sunset Losari- Lumayan kan, bagusan mana atas atau bawah!

Kemudian Sholat magrib di Guest House. Mandi. Kemudian diajak Makan malam sama Pak Fauzi. Soto Ayam 15 Ribu. Memang di sini makanan sama mahalnya dengan Internet. kemarin saya beli Penyet Lele Lamongan + Teh Botol + Krupuk 2 berapa tebak ?. 22 ribu. (mantabz harganya!). Waktu menunjukkan pukul 20 WITA. Saya pamitan untuk kembali ke Wisma saya. smbil menikmati perjalanan saya tolah toleh siapa tahu ketemu warnet yang lebih murah daripada yang berada di depan penginapan saya. ternyata malah ketemu warung besar bergambar tidak asing, Kolonel Sanders. dan yang membuat tidak asing lagi ada tulisan Gelael. oh ternyata tidak hanya di Tunjungan saja ada Gelael, hehehehe.

Kaya di Tunjungan- Kolonel Sanders

Kaya di Tunjungan- Kolonel Sanders

Di simpang jalan saya ketemu dengan rombongan massa yang sedang melakukan aksi. Kalu melihat semua pada bawa obor, mungkin aksi tentang olimpiade beijing, soalnya sekarang pembukaannya di sana. Tapi ketika saya tanya orang -orang yang ada di pinggir jalan mereka bilang tidak tahu. bahkan saya tanya yang ikut aksi jawabnya juga tidak jelas “ini mahasiswa mahasiswa mas, ya aksi bawa obor” . Saya tidak melanjutkan pertanyaan.

Aksi Obor

Aksi Obor

Akhirnya, saya sudah sampai di depan penginapan, dan langsung menuju warnet. walaupun 6500 perjam. mau gimana lagi. waduh…. sudah menembus angka 11 ribu. ya posting saya akhiri di sini. Mohon Doa. semoga sukses.

Rotterdam

Pedangmu berkilat melengkung

tegas tebas menghabisi wajah pucat kumpeni

tanpa tertahan

kudamu meringkik hebat

surainya melambai-lambai tertiup angin perang

kencang dan lembut membawa panas dan dingin


Pangeran!

Saya masih hidup

Saya melihat kuda anda sekarat

Saya tanya kuda anda

“mengapa Yang Mulia Pangeran mau bermeja dengan kumpeni mukapucat?”

Kuda anda mengerang marah dan menyebutkan sebuah kata

Rotterdam.


Saya mengerti, karena Anda Pangeran Senopati ing Alaga.

Sang ksatria yang selalu mengangkat kejujuran dan kemanusiaan

dan saya paham bahwa Anda adalah Sayyidin Panatagama Khalifatullah,

sehingga tidak akan bisa,

Rotterdam yang rapuh ini memenjarakan kewalianmu

karena hakekatnya Allah telah membebaskan ruhmu

untuk bercengkerama dengan kemerdekaan

yang sedang kami rayakan hari ini.


Shobirin Saerodji@Wisma Amanat
Makassar, 8 Agustus 2008

Makassar, I am Coming

Alhamdulillah Puji Syukur Hanya Untuk Allah Yang Maha Pengatur Segala Sesuatu.Setelah melewati masa-masa penuh dengan kepanikan karena hampir ketinggalan pesawat. Akhirnya saya sudah bisa sampai di Kota Makassar - kota yang tidak lepas dari Tokoh yang pernah menanam pohon Sawo di belakang rumah saya Pangeran Diponegoro.

Saya coba pajangkan oleh-oleh sementara dari pengalaman pertama numpak kapal muluk ini.





















Cerita panjangnya nanti saja yah… soalnya di sini tidak hanya waktu saja yang terpaut satu jam, tapi harga warnet juga terpaut 100 % lebih. Sejam Rp. 6500,-Padahal di Bojonegoro saja bersaing sampai ada yang Rp. 1500 per jam.

Thanks to:

- Pak Dokter Tom, Ust. Insan. Perjalanan mengesankan!

- Gus Huda, Ust. Basuki, Ust Roni, Ust Azmi dan segenap Ustad Ar-Rahmat yang lain.

- serta Anak-anakku yang mendoakan aku dari Pondok Suci Ar-Rahmat.

Insyaallah kalo sudah di Bojonegoro, akan saya sambung cerita serunya. Mohon Doa semoga kami, Tim Ar-Rahmat senantiasa dalam lindungan Allah Swt dan pulang membawa “kabar gembira” bagi siapa saja. Amin.

Power window, foto tertinggal dan sepeda motor.

HARI ini Ahad, 3 Agustus 2008, Ryan dan Wawan dilepas oleh segenap keluarga besar Ar-Rahmat. Doa dari teman-teman dan Ustadz-ustadz mengiringi keberangkatan mereka berdua. Tampak kebahagiaan menyelimuti teman-teman yang di tinggalkan. dan mereka berdua pun juga semakin mantap perjalanan mereka, setelah hari jumat lalu dipamitkan ke Pak Bupati. hari ini semakin lengkap setelah pamitan juga ke Gus Huda sebagai Pengasuh Pondok.

Seperti yang ku ceritakan kemarin, mereka berdua akan berlaga di Makassar untuk OSN.

Hari ini mereka harus berangkat ke Surabaya untuk menjalani TC yang diselenggarakan oleh dinas P dan K Jatim. rencananya mulai hari ini sampai tanggal 7 Agustus. dan tanggal 8 8 (jumat) bertolak ke makassar.

Berangkat dari pondok sekitar pukul 7.30 pagi dengan driver setia Ust. Insan kami kemudian mampir di sekitar Baureno untuk sarapan. Nasib kurang beruntung lagi-lagi kami alami. Untuk yang kedua kalinya, mobil kami power windownya rusak. jadi jendela tidak bisa ditutup total. akibatnya panas tidak dapat di elakkan. dulu juga pernah hal demikian terjadi, kemudian kami service kan di Lamongan. Lha sekarang kami dalam kondisi terburu-buru, takutnya ketinggalan agenda acara, soalnya agenda yang ditulis di undangan dari Dinas P dan K adalah jam 10. Kalau kami harus mampir bengkel, jelas kami akan ketinggalan.

Akhirnya Bojonegoro-Surabaya dengan jendela terbuka. tetapi, walau demikian untuk mengurangi panas Surabaya, ustad insan tetap saja menyalakan AC-nya walaupun jendela terbuka. lumayan mengurangi panas.

Sesampainya di Asrama Haji, ternyata tidak ada acara yang serius. hanya check in saja. kemudian istirahat. Sial ke dua, foto yang terbawa hanya fotonya wawan, fotonya ryan tertinggal di kamar. hhhhh…..!!!! ada aja. untungnya foto bisa menyusul nanti ketika sebelum berangkat. dan itu artinya bisa kutitipkan ke orang tua mereka nanti ketika mau menjenguk sebelum keberangkatan mereka ke makassar.

Aku dan Ustad insan kemudian mencari bengkel untuk servis power window. akhirnya kami berdua menemukan Manyar Auto Service. Lumayan besar dan bengkel “beneran” . Setelah selesai benahin PW, kami berdua mampir ke toko buku manyar yang berseberangan jalan agak jauh dari bengkel tadi. Lumayan hari ini memborong buku agak banyak. tapi ya murah-murah. 3 buku kuliahan tulisannya Prof. Gembong, 1 buku tipis identifikasi serangga, 2 jilid buku tentang Islam tulisannya Prof Harun Nasution, 1 Novel Winnetou I karya Karl May, dan 1 buku untuk hadiah santri of the month bulan Juli. Total bayar dikasir 195 ribu. murahkan. relatif!.

Ketika pulang, nyampai dipasar Babat, dari arah timur jalan tiba-tiba sepeda motor memotong kami yang sedang melaju sedang, sontak kami kaget dengan rem ustad insan yang mendadak, ditambah lagi sepeda motor yang ternyata berpengendara laki-laki tua itu ikut-ikutan nge rem sepeda motornya tapat di depan moncong mobil kijang kami. tepat posisi menyilang 90 derajat. Untung tidak terjadi apa-apa. sementara di seberang jalan, beberapa orang yang tahu kronologi kejadian itu mengumpat orang tua yang naik sepeda motor tadi. kami berdua hanya diam dan mengelus dada.

Dari kekurang beruntungan mulai dari power window sampai mau menabrak orang tua yang kami lalui hari ini, semua sudah terancang dengan baik. dan terlaksana dengan baik. maka jika aku harus terus menyalahkan dan menggerutu kepada orang tua yang mau menyeberangkan sepeda motornya dengan memotong mobil kami, maka itu semua adalah kebodohan dan kesia-siaan, bahkan mungkin adalah sebuah bentuk kekafiran kecil yang akan menjadi penyakit hati. maka aku terima sebagai sebuah takdir yang pasti jika aku pandai mengambil pelajaran, aku akan jauh lebih baik dari kemarin.

Amin.

Makassar semakin dekat

oleh: Shobirin Saerodji


TAMPARAN yang cukup memerah kembali kurasakan. hikmahku benar-benar di ambang kehancuran. among rosone awake dewe, itu yang sekarang kurasa lepas kendali.

Baru saja kemarin tamparan demi tamparan kuterima. tapi belum juga membekas dan memberi hikmah.

Sebuah balon harapan kembali tertiup. kemarin diinformasikan akan di pamitkan pak bupati untuk anak-anakyang akan berangkat ke makassar. akupun merasa senang. senang akan bertemu dengan bapak bupati, tokoh yang akhir-akhir ini mampu membuat aku terkesiap karena kecerdasan dan kepandaiannya.

Ditiup dengan angin sejuk kemarin ketika pertemuan wali murid. Banyak sekali tiupan yang sangat mungkin membuat diameter kepalaku bertambah beberapa centimeter. dan disana tertiup juga dengan harapan-harapan untuk mendapatkan medali. Dan Jadwal pun juga susah disampaikan bahwa hari ini akan bertemu dengan bapak bupati. anakj-anak sudah aku buatkan strategi untuk bertemu dengan oran-orang yang akan mengacaukan motivasi yang selama ini akau bangun. indoktrinasiku sudah aku alirkan kedalam aliran dalah mereka. sehingga kata-kata motivasi yang berbau materialisme tidak akan mental buat mereka.

Aku siap bertemu dengan bapak bupati. anak-anak juga sudah siap. dengan harapan dan kebanggaan. orang-orang-para teman guru juga sudah tahu rencana itu. tapi ALlah memang sangat sayang dengan aku. ketika aku sudah mulai melupakan Kemahakuasaannya, tamparan keras kurasakan lagiu. Protokoler Bupati menunda pertemuan sampai saat yang belum bisa diatur jadwalnya.

aku pasrah, Ustad Roni sepertinya membaca kekecewaanku, dengan mendekatiku, dan mengatakan ” Tidak apa-apa ya Ustad?”. aku merasa bahwa aku sangatlah lemah. dan itu yang ingin senantiasa Allah ingatkan kepadaku. inilah cara Dia.Aku tidak berhak mencampurinya. hanya berkewajiban melaksanakannya.

Besoknya, pagi. Ustad Roni telepon. “Nanti siang jam 10.30 kita menghadap OPak bupati tolong anak-anak di hubungi”.

aku semakin sadar. bahwa engkau maha mengatur segala sesuatu. apalagi hanya urusan pertemuan dengan bupati. Inna Allah ala kulli syaiin qadir.

Tadi pagi tiket pesawat PP surabaya-makassar sudah diberikan kepadaku. Aku merasa makassar sudah tercium baunya. seakan dibalik tembok belakang lemari penuh piala itu makasar bersembunyi. tapi sekali lagi, aku tidak berani lagi mendahului. apalagi dari sebelah kiri.

JALAN BERLIKU MENUJU MAKASSAR

Oleh: Muh. Shobirin Saerodji

SEPERTINYA aku memang dipaksa untuk menjadi orang yang pesimistis. Tuhan tidak akan membiarkan aku sok mengatur, sok kuasa, dan sok “kun” yang kemudian “fa yakun”. Tidak ada alasan yang akan membuat aku menjadi orang optimistis. Menjadi orang yang selalu yakin, terlena dengan kemampuan semu diri. Terlalu percaya diri dengan kemampuan prediksi dan kesombongan penghitungan masa depan. Tuhan tidak akan membiarkan aku demikian. Allah Maha Mengatur Segala Sesuatu dan Allah Maha Mengetahui segala kebutuhan hamba-hambanya.

Surat undangan dari Science center ITS aku terima tadi pagi. Sedangkan isinya sudah aku terima beberapa hari yang lalu melalui email dari Dosen ITS juga dari SMS teman guru se-pelatihan tahun kemarin. Aku pun segera mempersiapkan diri untuk menyeleksi beberapa anak binaanku untuk berangkat test ke rayon Lamongan. Aku tidak ingin kejadian tahunlalu terulang, aku sangat malu. Bagaimana tidak muridku biologi tidak lolos seleksi, sedangkan aku gurunya bisa lolos. Di sisi lain memang aku berhasil. Tapi di sisi lainnya hal itu bisa diartikan bahwa aku masih belum bisa mengajar dengan baik. Aku masih belum bisa mentransfer pengetahuanku kepada anak didikku. Dan tugas yang lebih menyakitkan adalah harus membimbing murid dari sekolah lain yang lolos seleksi untuk aku antarkan menjadi juara di kabupatenku. Aku malu kepada lembagaku, aku malu kepada pimpinanku-kepala sekolah. Aku tidak ingin itu terjadi lagi. Sudah kusiapkan selama satu semester melalui wadah pengembangan diri Science Club yang lebih intensif dan fokus di biologi.

Aku sendiri juga secara mental sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi test. Hanya persiapan mental saja, walaupun secara materi aku juga masih harus banyak belajar sebenarnya. Tapi tidak ada waktu untuk membaca-baca materi lebih banyak karena tugas di pondok dan di sekolah benar-benar membuat aku tidak bisa membagi waktu. Sebenarnya menjadi beban menanggung malu juga jika nanti anak-anakku lolos seleksi sementara gurunya tidak lolos seleksi. Wah, bisa malu juga. Tapi itu lebih baik bagiku, aku lebih siap menerima takdir itu dari pada seperti kejadian tahun lalu.

***

Petang setelah sholat magrib,

“ini Pak Basuki, ada surat permohonan pendelegasian dari Science Center ITS. Di sini di jelaskan kuota anak maksimal 5 per mata pelajaran, kita mengirimkan berapa Pak?”

“ya nJenengan sama Pak Wahab sudah punya jago berapa?”

“sudah ada 5 Pak”

“tapi kalau mengirimkan 5 permata pelajaran berarti nanti 15 anak, kijangnya tidak muat untuk 15 anak Pak, dan biaya nya nanti juga cukup banyak”

“ya ndak apa-apa Bus kan juga banyak bojonegoro - lamongan, naik us juga bisa kan?”

“oh iya Pak, bisa”.

“trus ini untuk gurunya juga ada Pak testnya, guru yang tahun kemarin lolos masih diperbolehkan ikut lagi”

“lha menurut Pak Birin kira-kira masih perlu ikut apa tidak, kan tahun kemarin sudah, apa materinya kira-kira menurut hemat Pak Birin masih sangat diperlukan?”

Aku terdiam. suara anak-anak kelas 9 mengaji di dalam musholla menggangguku berpikir. aku masih terdiam tidak menjawab.

“ya nanti ganti Pak Yono yang belum pernah ikut, pak birin dan pak awhab kan sudah pernah ikut, biar gantian yang merasakan pengalaman, kalau pak birin sama pak wahab kan sudah mempunyai pengalaman banyak di bidang pembinaan olimpiade ini”

“nggih, Pak”

Anak-anak kelas 9 sudah selesai mengaji di musholla. mereka kemudian gemruduk berlarian mengambil piring untuk rebutan antrian makan malam.

Aku terdiam lagi, dan berpikir. Kemudian kecewa.

***

Jamaah isya’ hanya tersusun tiga shof. itu menandakan bahwa yang berjamaah hanya kels 9, sedangkan kelas 7 dan 8 berjamaah di masjid An nur, untuk mengikuti pengajian rutin ba’dal magrib sampai isya’, dilanjutkan jamaah di sana. tiga shof itu juga mengingatkan bahwa hari ini adalah hari rabu, dimana setiap rabu malam ada agenda rutin rapat koordinasi minggguan untuk semua ustad. biasanya dilaksanakan di teras mushola, lesehan, dan nyantai.

Keputusan untuk tidak memberangkatkan aku Pak Wahab, aku terima dengan lapang dada. Karena memang, aku sudah pernah mengikuti pembinaan yang sama tahun kemarin. Dan kenapa aku lapang dada, karena Pak Wahab, sebagai senior yang menjadi rujukan, juga sepertinya tidak akan berangkat tes, karena konsekuensi yang akan diterima jika lolos test tidak mungkin akan bisa dia lakukan. Hal itu disebabkan karena beliau tinggal menghitung hari untuk menyambut kehadiran putra pertamanya. Sedangkan jika lolos test ini artinya siap meninggalkan keluarga dan sekolah selama seminggu sepanjang 6 bulan ke depan. Namun hal itu tidak diungkapkan kepadaku. Karena tidak ingin menyurutkan semangat bersama untuk membuat target peningkatan kesuksesan tahun ini dari bidang sains. Namun hal itu sepertinya tidak berhasil. Aku sudah terlanjur patah arang. Sedangkan pertimbangan Pak Basuki sebagai kepala sekolah, biarlah bergantian yang berangkat, yaitu Pak Yono sebagai guru matematika yang tahun kemarin belum berhasil lolos seleksi, sedangkan aku dan Pak Wahab sudah mengikuti tahun kemarin. Masuk akal.

Beberapa teman pelatihan tahun lalu sudah menghubungiku dengan mengucapkan selamat bertemu lagi di ITS tahun ini untuk yang kedua. Dengan tersenyum kecut aku menjawab bahwa kepala sekolah ku tidak mengijinkan aku dan Pak Wahab untuk berangkat. Sederhana saja yang ku utarakan kepada mereka, “kepala sekolah kami belajar dari pengalaman tahun kemarin, ketika ditinggal pak wahab, sekolah menjadi kalang kabut karena beliau itu waka kurikulum. lha kalau tahun ini yang ikut tiga orang lolos semua sementara guru di sini cuma 12 orang habislah nanti sekolahan ini”.

Aku sudah terbiasa dengan hal demikian. Setelah itu akan hilang menguap karena suhu luar tubuhku lebih tinggi, sedangkan tubuhku terbiasa relatif dingin. Aku sudah menikmati keputusan bahwa aku tidak berangkat test seleksi dengan nikmat dan enjoy.

Rapat sudah dimulai, ustad Roni sudah membuka dengan basmalah, dan buku presensi sudah beredar siap untuk ditanda tangani.

Ketika rapat,

“jadi nanti kita memberangkatkan 15 anak. Yang 10 berangkat naik kijang dengan Pak Insan dan Pak Yono, sedangkan yang 5 naik bus dengan Pak Birin. Lha nanti Pak Insan dan Pak Birin terus menuju Surabaya belanja komputer, dan anak-anak nanti biar pulang dengan Pak Yono naik Bus. Nggih Ngoten pak Yono ya, berani kan meng-angon 15 anak?”

nggih Pak, insyaallah sanggup” sendiko dawuh dengan manggut-manggut.

Sebenarnya aku yang mengatur semua rencana itu dengan Pak Insan. Dan menyampaikannya kepada Pak Roni, kemudian Pak Roni sebagai Wakasek menyampaikannya kepada Pak Basuki.

“begini Pak Basuki, saya tahun ini mempunyai target besar untuk olimpiade” Pak Wahab menyela

“Tahun ini kami mempunyai target yang besar untuk olimpiade” Pak Wahab meralat .

“Saya kira, tahun kemarin itu kami masih belum cukup untuk meyerap ilmu dari ITS, maka kesempatan yang baik tahun ini kami tidak ingin melepaskannya. Ini juga salah satu alasan mengapa saya berani melepaskan kelas 9 untuk intensif dengan mencari pengajar dari luar dan saya fokus di pengembangan diri fisika. Karena kami punya target besar untuk tahun ini” jelas Pak Wahab

“oh, kalau begitu yang berangkat test Pak Yono dan Pak Wahab, jadi Pak Yono biar ada teman untuk membawa anak 15 naik bus”.

“Pak Birin juga harus berangkat Pak Basuki!” Pak wahab menegaskan.

“oh begitu, lha nanti Pak Insan dengan siapa belanja ke Surabayanya?”

“eh… kalau masalah itu nanti saya sendiripun juga tidak apa-apa” jawab Pak Insan mendukung

“kalau begitu terserahlah, jadi gurunya Pak Wahab, Pak Yono dan Pak Birin bersama 15 murid kita. Wong gratis saja, ya kan, mengapa tidak dimanfaatkan sebesar-besarnya”.

Dalam hitungan menit, pesimis ku mendapatkan counter attack dari perubahan kebijakan kepala sekolah yang akhirnya mengijinkan aku berangkat mengikuti test seleksi. Dan akhirnya keinginanku sejalan dengan takdir yang terlaku. Aku berangkat sesuai rencana terakhir.

***

Setelah test, seperti biasa aku tidak berani berharap banyak. Karena aku tahu tidak ada persiapan materi. Bahkan persiapan mentalpun sudah koyak karena keputusan pertama kepala sekolah yang tidak menyetujui keberangkatan ku. Aku hanya berharap anak-anak ada yang nyantol barang satu sukur-sukur bisa ke lima-limanya. Karena tahun kemarin aku yang lolos, sementara anakku tidak lolos. Kalaupun tahun ini tidak lolos aku tidak akan menyesal, dan mungkin itu akan lebih baik bagi sekolah. Aku sudah rela.

Setelah beberapa minggu, halaman situs Fisika ITS aku download dan alhamdulillah, Allah masih memaksaku untuk jatuh mengakui KemahakuasaanNya untuk mengatur segala sesuatu. Dua orang muridku bidang biologi lolos, dan 2 dari Fisika sementara dari matematika 1 anak. Total 5 anak. Benar-benar luar biasa. Tahun lalu hanya 1 anak. Sekarang 5 anak. Dan namaku juga tercantum untuk menjadi guru pendamping bidang biologi, untuk kali ke dua. Satu-satunya dari sekolahku. Alhamdulillah.

Setelah beberapa hari surat dari ITS menambah kegembiraan lagi dengan memasukkan nama Apriliawan sebagai peserta yang lolos dari bidang biologi. Jadi bertambah satu orang lagi siswa yang lolos. Dan biologi 3 orang. Aku tidak berani berspekulasi komentar alasan kenapa pak wahab dan pak yono tidak lolos.

***

Akhirnya akupun berani memasang keinginan, bahwa tahun ini harus menjadi meningkat daripada tahun kemarin. Kalau tahun kemarin aku sudah berhasil mengantar Assayid menjadi peserta OSP. Tahun ini harus berhasil mengantar anak-anak menjadi peserta OSN. Atau kalaupun hanya peserta OSP yang lolos tidak hanya satu seperti tahun kemarin.

***

Dari hasil perkembangan anak-anakku selama di ITS aku tidak melihat hal yang signifikan untuk mendukung targetku. Malahan aku merasa kalah dengan anak didik Bu Nurul dan Pak Joko, juga anak anak dari surabaya. Anak-anakku masih berada di bawah. Wawan paling puncak hanya di peringkat 14.

Apa mau dikata, malah ketika seleksi ke tahap II Humam Ari terpaksa gugur dari persaingan eliminasi ke tahap 2. Aku sedih. Dan tidak tega untuk menyampaikannya.

Sementara Ryan dan Wawan masih bertengger di antara peringkat 10 sampai 15. jauh di bawah anak-anak 5 besar. Yah, aku enjoy kan dan aku nikmati keadaan.

***

Ketika OSK tiba, targetku, minimal 2 wakil bojonegoro adalah anak-anak ku, yaitu Wawan dan Ryan. Aku tidak berani memasang harga tinggi. Karena tahu sampai dimana kemampuan mereka.

Kepesimisanku ternyata dijawab dengan keluarbiasaan. Ketiga muridku lolos, dan ryan dan wawan berhasil di peringkat 38 besar. Bahkan wawan di 10 besar se jawa timur. Tentunya ini adalah jawaban, dan pemaksaan kepadaku agar aku semakin menyadari bahwa aku tidak boleh sombong, sok menentukan sesuatu. Merecoki prerogratif Allah Swt. Alhamduliilah, tamparanMu aku rasakan.

***

OSP menjelang. Bolehlah berharap aku akan berangkat mendampingi anak-anak ke Malang. Karena tahun ini tidak dilaksanakan di Surabaya. Undangan panggilan ke dinas bersama anak-anak, beserta peserta dari sekolah lain aku anggap sebagai agenda konsolidasi dan penentuan guru pendamping yang akan diberangkatkan dinas ke Malang. Dan aku merasa akulah yang akan di tunjuk, karena siswaku yang lolos sebanyak 7 orang. Sedangkan sekolah lain paling banyak 5 dan bahkan ada yang 1.

Ternyata, dugaan meleset. Tida ada satupun dari guru pendamping yang ditunjuk menjadi pendamping. Orang dinas sendiri yang mengantarkan. Aku kecewa. Dan kecewanya lagi sekolah lain guru-gurunya dibiayai sekolah untuk tatap mendampingi anak-anaknya, sedangkan aku, tidak mendapat tanggapan.

Aku baru sadar, ternyata untuk kesekian kalinya aku ditampar dengan keras bahwa aku tidak pantas ikut meyakinkan diri me kun fayakunkan semua keinginan hatiku. Allah maha Mengingatkan. Aku sang manusia mahalul khoto’ wa nisyan.

Aku menikmati ketidakberangkatanku dengan enjoy, dan rela. Aku berusaha menyadari se sadat-sadarnya. Tujuan dari keinginanku mendampingi ke malang adalah agar anak-anakku bisa berhasil lolos ke nasional, aku menyempitkan jalan kesuksesan ke nasional. Seakan akan jalan ke nasional hanya akan bisa teraih jika aku mendampingi mereka. Aku membatasi kehendak Allah dengan kehendak ku. Sedangkan Allah mempunyai kehendaknya sendiri untuk mengantarkan takdir dari tetes ke tetes embun yang menetes dari ujung daun rumput teki di pagi hari. Dan kehendakku ternyata tetap dibawah kendali kehendakNya. Plak!!! . tamparan untuk kesekian kalinya. Astagfirullahaladzim.

***

Aku sedang mengucek pakaian ku. Tiba tiba kakakku menyusulku di sumur dengan membawa HP yang sedang berdering. Aku lihat di layar LCD 2 inchi “Pak Aunur ITS calling. Bagaikan malaikat pembagi kebahagiaan, Pak Au mengabarkan bahwa Wawan dan Ryan berhasil lolos ke Nasional. Ke Makassar. Sujud syukurku kupersembahkan kepada Allah Swt. Tidak ada yang bisa aku ucapkan selain alhamdulillah.

Kebahagiaan menyelimuti hatiku. Dan ternyata Allah memang mempunyai jalan lain untuk menetapkan takdirnya, tidak harus sesuai dengan kemauanku untuk bisa membahagiakan aku.

***

Pujian, ucapan terima kasih dan sanjungan datang dari teman SC, teman guru, kepala sekolah dan orang tua murid. Juga beberapa dari teman ngeblog. Tiba-tiba aku berani minta doa kepada ibuku,

” Mak, doakan aku agar nanti bisa mendampingi anak-anak ke makassar”

“muridku lolos ke tingkat nasional”

“doakan nggih”

“ya” jawab ibuku.

Aku sebenarnya tidak berani mengharap banyak kesempatan untuk bisa berangkat ke makasar. Tetapi kabar dari teman-teman SC yang katanya mau diberangkatkan sekolah dan orang tua masing-masing membuat keinginanku muncul lagi. Aku sudah berusaha melawannya dengan sering-sering mengucapkan

“saya tak fokus di latihan praktikum anak-anak, kalaupunsekolahmau memberangkatkan aklu tidakmau itu inisiatidf dari saya. Cuman kalau boleh saya kasih tahu sekolah-sekolah lain memberangkatkan guru-gurunya untuk mendapingi anak-anak. Bahkan Yimi yang hganya satu anak yang lolos itupun memberangkatkan gurunya.”

Ucapanku yang poenuh nuansa pilitis dan samar- mengagitasi untuk mengajak orang lain memperjuangkan kepentingan ku. Ucapan yang berlepotan bau kepentingan pribadi yang disamarkan dengan kerendahan diri yang dibuat-buat.

Dan akaumenuai ucappanku sendiri sebagai bumerang. Harapan keci;\l yang terpuopuk ituoun akhirnya membuaiku dengan kesemuaan. Apalagi dipupuk oleh persuasi wali santei yang katanya menghendaki saya juga berangkart bersama anak-0anak mereka. Semakin meniup balon harapan sehingga semakin membesar dan melambung.

Sementara aku lupa lagi bahwa aku telah bermain dengan kehendak, dan harapan. Yang tidak aku sadari semakin membesar dan melambung karena tiupan uncapan dan pernyatannku sendiri.

Aku yang tidak kunjung mengerti tentang pelajaran tawakkal dan kepasarahan.

Allah sekali lagi menampar dengan memberikan kabar dari YIMI bahwa mereka menganggarkan 10 juta untuk berangkat ke makasar. Aku shock. Akutaidak berkomentar. Sedangkan aku tahu sekolah tidak akan mau mengluarkan budget sebesar itu hanya untuk mengantarkan saja. Danb akupun jugamerasa itu adalah pemborosan. Akhirnya balon harapan kupun mengempis. Dan bahkan mengempis lekat, ketika kepalasekolah mengatakan “kan sudah otomatis Pak birin yang berangkat?”

“tidak Pak, yang mengantar nanti orang dinas”

“oh, tapi kan anak-anak sudah di tanggung Diknas kan, jadi bukan biaya sekolah lagi. Biasanya itu ada surat tugas untuk guru mendampingi, masak guru pendampingnya tidak di berangkatkan”

Ucapan itu meletuskan harapan ku dan akupun kembali ke kesadaran ucapku yang dulu, bahwa aku harus percaya bahwa Allah mempunyai jalan tersendiri yang sangat mungkin berbeda dengan keinginanku yang serba terbatas kemampuan nalarnya.

Beberapa kali saya ngomong dengan melas, kepada siapa saja yang menanyakan, dengan ucapan “saya tidak ikut kok pak, bu, hanya anak-0anak saja y ang berangkatr, yang mendampingi orang Diknas”

Dengan mengucapkan seperti itu aku merasa puas, karena kebanyakan mereka kemudian mencercea memaki dinas yang tidak memberikan apresiasi bagi guru yang telah membawa kabupaten kenasional.

Balonku sudah terlanjur pecah, dan aku buang.

Tiba-tiba suatu malam, Pak basuki dan Gus Huda memanggil aku. Bersama Pak Wahab, kami berempat mengawali diskusi dengan persiapan praktikum anak-anak. Aku mengatakan bahwa kita masih membutuhkan mikroskop dengan perbesaran yang lebih besar. Akhirnya sama pak bas disarankan pinjam ke SMA 2. dan aku disuruh bikin surat.

Tanpa ekspresi Gus Huda bertanya lha Pak Birin juga ikut berangkat?
saya bilang “tidak”

Kemudian Pak basuki menjelaskan kepada Gus huda kalo orang dinas yang mengantar.

“apa pondok tidak sanggup memberangkatkan?”

“sangat bisa” jawab Pak Basuki.

Malam itu awal terbukanya lagi jalan menuju makassar. Tapi aku tidak berani mempunyai harapan yang macam-macam.

Aku menikmati meletusnya harapan. tapi aku juga takut, tamparan apa lagi yang akan aku terima?

La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda