Pedangmu berkilat melengkung
tegas tebas menghabisi wajah pucat kumpeni
tanpa tertahan
kudamu meringkik hebat
surainya melambai-lambai tertiup angin perang
kencang dan lembut membawa panas dan dingin
Pangeran!
Saya masih hidup
Saya melihat kuda anda sekarat
Saya tanya kuda anda
“mengapa Yang Mulia Pangeran mau bermeja dengan kumpeni mukapucat?”
Kuda anda mengerang marah dan menyebutkan sebuah kata
Rotterdam.
Saya mengerti, karena Anda Pangeran Senopati ing Alaga.
Sang ksatria yang selalu mengangkat kejujuran dan kemanusiaan
dan saya paham bahwa Anda adalah Sayyidin Panatagama Khalifatullah,
sehingga tidak akan bisa,
Rotterdam yang rapuh ini memenjarakan kewalianmu
karena hakekatnya Allah telah membebaskan ruhmu
untuk bercengkerama dengan kemerdekaan
yang sedang kami rayakan hari ini.
Makassar, 8 Agustus 2008
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:
Posting Komentar