DALAM minggu-minggu ini ramai dibicarakan tentang pen-caleg-an baik di media elektronik maupun cetak. Bahkan obrolan warung kopi-pun juga ikutan gayeng membahas tema ini. Saya tidak begitu heran kalau kelas warung kopi “mbah No” dan cangkrukan angkring serta kelompok udut cethe tiba-tiba tidak males membahas tentang dunia perpolitikan dalam hal ini pencalegan. Kelompok masyarakat yang biasanya hanya “nggedabrus, ngalor-ngidul” sekarang sudah tidak hanya berlevel politik Pilkades, tapi sudah berpikir wilayah politik tingkat lebih tinggi - Legislatif Daerah. Fenomena ini bukan semata-mata karena meningkatnya pengetahuan ketatanegaraan atau kesadaran pendidikan berpolitik masyarakat tapi lebih disebabkan karena banyak tetangga-tetangga dan teman karibnya yang ikutan menjadi mencalonkan diri menjadi caleg. Sehingga mendadak merasa naik derajat, karena menjadi orang yang dekat dengan calon anggota dewan yang terhormat. Maka membahas dunia politik prapemilu 2009 kali ini akan sangat meriah walaupun di warung kopi “Mbah No“, cangkrukan angkring, ataupun kelompok udut cethe.
Saya sediri juga demikian. Beberapa teman dekat Saya mulai teman cangkrukan, sampai teman chatting pada pemilu mendatang ini akan ikutan mencalonkan diri menjadi caleg (nyaleg: Jawa). Partainya pun beragam. Mulai dari partai terbaru sampai partai era orde baru. Rata-rata mereka masih muda dengan idealisme tinggi. Hanya, kebanyakan adalah seorang “greenhorn” politik yang pada wilayah imajinasipun mereka belum pernah mengunjungi padang kurusetranya Satria Kerah Putih.
Jaman sekarang menjadi caleg adalah jalan cepat meraih popularitas juga kantongtebalitas. Apalagi ditambah adanya kesempatan longgar tawaran dari partai-partai baru yang masih kesulitan mencari kader yang akan dicalegkan, karena memang anggota saja masih banyak yang hanya di atas kertas. Tidak heran jika orang-orang di sekitar kita banyak yang ramai-ramai mencalegkan diri.
Bagaimana sikap kita sebagai teman dan tetangga?. Kadang sebagai teman dekat yang tahu (versi saya) akan kotornya dunia politik merasa kasihan dengan langkah yang diambil oleh teman-teman saya.
Betapa mereka adalah orang-orang yang sudah cukup jujur dan baik. Sedangkan modal yang harus dimiliki agar bisa bertahan tetap menjadi orang baik di kursi dewan tidaklah cukup dengan “jujur”. Kejujuran yang “loko-loko” juga tetap tidak akan menyelamatkan. karena pepatah Jujur=hancur itu lahirnya dari sana. Modal lain yang harus dimiliki oleh politikus adalah cerdas. Cerdas dalam hal ini mendekati pengertian cerdik. Artinya tahu dimana posisi aman dan menguntungkan. Tentunya aman dan menguntungkan ini sesuai dengan maqam ilmu masing-masing. Misalnya untuk maqam yang ahli agama, aman dan menguntungkan itu adalah yang tidak melanggar syar’i tapi yang “basah”, kalo syar’i tapi “kering” ya ogah. Kalau maqamnya setengah ahli agama misalnya; syubhat (bahkan haram) tidak apa-apa yang penting dimanfaatkan untuk kebaikan ummat banyak dan kepentingan agama. Kalau sudah begini betapa susahnya mempertahankan diri menjadi orang baik. Bisa dibayangkan pengertian “aman dan menguntungkan” versinya anggota dewan yang tidak mengenal (mengindahkan ajaran) agama?.
Meskipun begitu saya tidak pernah “nggembosi” mereka untuk terus melangkah ke dunia bintang (kalo versinya bang Iwan Fals : dunia para binatang). Karena kalau bukan mereka yang muda-muda yang berbicara, maka kapan dunia perpolitikan negeri ini akan berubah?. Walaupun, saya harus merelakan teman-teman saya yang jujur dan baik memasuki wilayah yang sangat berbahaya. Demi sebuah perubahan.
Saya ihlaskan teman-teman untuk berjuang di wilayah perpolitikan. Saya hanya mendoakan semoga kalian mampu menyumbangkan perubahan dunia perpolitikan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Saya akan masih tetap di sini, sambil mengamati.
Salam!
Shobirin Saerodji
Label: Cerita Kehidupan
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

test
Cah Cilik Lanang a.k.a CCL mengatakan...
25 Agustus 2008 pukul 07.27
Apakah yang dimaksud kelompok udut cethe adalah orang-orang yang cenderung memperkirakan jarak tempuh perjalanan dengan panjang pendeknya udut???
"Pasarnya masih jauh Mbah??"
"Ya, kira-kira satu hisapan udut lah...!!!"
Anonim mengatakan...
25 Agustus 2008 pukul 19.05