Makassar semakin dekat

oleh: Shobirin Saerodji


TAMPARAN yang cukup memerah kembali kurasakan. hikmahku benar-benar di ambang kehancuran. among rosone awake dewe, itu yang sekarang kurasa lepas kendali.

Baru saja kemarin tamparan demi tamparan kuterima. tapi belum juga membekas dan memberi hikmah.

Sebuah balon harapan kembali tertiup. kemarin diinformasikan akan di pamitkan pak bupati untuk anak-anakyang akan berangkat ke makassar. akupun merasa senang. senang akan bertemu dengan bapak bupati, tokoh yang akhir-akhir ini mampu membuat aku terkesiap karena kecerdasan dan kepandaiannya.

Ditiup dengan angin sejuk kemarin ketika pertemuan wali murid. Banyak sekali tiupan yang sangat mungkin membuat diameter kepalaku bertambah beberapa centimeter. dan disana tertiup juga dengan harapan-harapan untuk mendapatkan medali. Dan Jadwal pun juga susah disampaikan bahwa hari ini akan bertemu dengan bapak bupati. anakj-anak sudah aku buatkan strategi untuk bertemu dengan oran-orang yang akan mengacaukan motivasi yang selama ini akau bangun. indoktrinasiku sudah aku alirkan kedalam aliran dalah mereka. sehingga kata-kata motivasi yang berbau materialisme tidak akan mental buat mereka.

Aku siap bertemu dengan bapak bupati. anak-anak juga sudah siap. dengan harapan dan kebanggaan. orang-orang-para teman guru juga sudah tahu rencana itu. tapi ALlah memang sangat sayang dengan aku. ketika aku sudah mulai melupakan Kemahakuasaannya, tamparan keras kurasakan lagiu. Protokoler Bupati menunda pertemuan sampai saat yang belum bisa diatur jadwalnya.

aku pasrah, Ustad Roni sepertinya membaca kekecewaanku, dengan mendekatiku, dan mengatakan ” Tidak apa-apa ya Ustad?”. aku merasa bahwa aku sangatlah lemah. dan itu yang ingin senantiasa Allah ingatkan kepadaku. inilah cara Dia.Aku tidak berhak mencampurinya. hanya berkewajiban melaksanakannya.

Besoknya, pagi. Ustad Roni telepon. “Nanti siang jam 10.30 kita menghadap OPak bupati tolong anak-anak di hubungi”.

aku semakin sadar. bahwa engkau maha mengatur segala sesuatu. apalagi hanya urusan pertemuan dengan bupati. Inna Allah ala kulli syaiin qadir.

Tadi pagi tiket pesawat PP surabaya-makassar sudah diberikan kepadaku. Aku merasa makassar sudah tercium baunya. seakan dibalik tembok belakang lemari penuh piala itu makasar bersembunyi. tapi sekali lagi, aku tidak berani lagi mendahului. apalagi dari sebelah kiri.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda